ANJLOKNYA
NILAI TUKAR RUPIAH
Dari tahun
ke tahun, nilai tukar rupiah
cenderung melemah. Hal ini tentunya bukan hal yang bagus, tetapi juga
tidak dapat dihindarkan terutama dari negara-negara berkembang, salah satunya
Indonesia. Nilai tukar Rupiah yang melemah bukannya tanpa sebab, tetapi banyak
faktor yang menunjang hal tersebut.
Salah satu hal yang paling
riskan yang menunjang melemahnya nilai tukar Rupiah adalah kecenderungan
melambatnya ekonomi negara Indonesia, sedangkan pada negara-negara maju sedang
terjadi pemulihan ekonomi. Selain itu, merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) dan ketidakpastian pemerintah menaikkan harga BBM juga mempengaruhi
melemahnya Rupiah.
Nilai tukar sebuah mata uang
sangat ditentukan oleh hubungan penawaran-permintaan atas mata uang. Jika
permintaan atas sebuah mata uang meningkat sementara penawarannya menurun, maka
nilai tukar mata uang akan naik, begitu pun sebaliknya. Dengan demikian, Rupiah
melemah karena penawaran yang tinggi, sementara permintaannya rendah.
Melemahnya Rupiah tentunya memiliki beberapa
dampak, beberapa diantaranya pada dinamika ekspor dan impor dan kenaikan
nominal Rupiah dari utang luar negeri, karena utang luar negeri dipatok dengan
mata uang asing. Uang Rupiah yang dimiliki Indonesia harus ditukar dengan mata
uang asing. Akibatnya, nilai tukar Rupiah pun semakin melemah.
Bukan tidak mungkin nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar naik. Pada tahun 1999, kurs tengah Rupiah terhadap US Dollar
mencapai 7.100, sangat jauh berbeda dengan tahun 2018 yang mencapai 14.000.
Penguatan Rupiah ini didukung dari perbaikan IHSG di Bursa Efek Indonesia yang
mencapai 691,9 poin atau menguat 62,8% pada akhir 2003.
Keluarnya investasi portofolio
asing juga menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap
melemahnya Rupiah. Hal ini dikarenakan dalam proses ini investor asing menukar
Rupiah dengan US Dollar untuk diputar dan di investasikan di negara lain. Hal
ini berarti akan terjadi peningkatan penawaran terhadap mata uang Rupiah.
Faktor lain yaitu neraca
perdagangan yang defisit, yaitu ekspor yang dilakukan Indonesia lebih kecil
daripada impor. Hal ini sebenarnya dapat ditanggulangi jika Indonesia dapat
merubah kultur budaya nya menjadi bangsa yang unggul dalam bidang swasembada di
segala bidang. Ini tentunya memungkinkan dengan kekayaan alam dan potensi
sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia.
Faktor ketiga yang juga sangat
melemahkan Rupiah adalah bangsa Indonesia yang umumnya bersifat konsumtif serta
boros, bukan menjadi negara yang produktif. Bayangkan saja jika Indonesia dapat
menjadi produktif dan warga negara nya tidak melulu konsumtif, dengan itu
selain menguatnya Rupiah, utang Indonesia ke luar negeri pun dapat dicicil
bahkan dilunasi.
Komentar
Posting Komentar